Home Artikel Kesenian Upacara Ngaben Tikus - Kebudayaan Tradisional Pertanian Bali

Upacara Ngaben Tikus - Kebudayaan Tradisional Pertanian Bali

Jagat Bali News - Kebudayaan

Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 

Upacara Ngaben Tikus adalah salah satu tradisi kebudayaan agraris yang sudah di lakukan oleh masyarakat Bali secara turun temurun sejak zaman dahulu.Kebudayan ini bersumber pada alam pikiran mistis dimana animisme, dinamisme dan budaya Hindu bercampur baur melahirkan ritual-ritual,  kesenian, tata sosial, tata nilai, dan unsur-unsur budaya lainnya. Ngaben Tikus dilakukan ketika wabah tikus menyerang  sawah-sawah petani. Upacara Ngaben Tikus ini bisa disebut Marataka Mrana Tikur. Seiring waktu berjalan dan lahan pertanian yang semakin berkurang. Ngaben Tikus tetap dapat disaksikan  di Desa Cemagi, Mengwi, Badung dan desa adat Bedha kabupaten Tabanan Bali sampai sekarang.

Upacara ini diyakini selain untuk mengusir hama tikus, juga untuk mengembalikan roh tikus yang telah mati tersebut ke alamnya dan bila terlahir kembali tidak menjadi hama lagi yang akan merusak area persawahan petani.Ngaben tikus merupakan salah satu jenis upacara Nangluk Mrana. Hal ini diuraikan dalam buku upacara “Nangluk Mrana” karangan Tjokorda Raka Krisnu “Nangluk”  berarti empangan, tanggul, pagar, atau penghalang dan “mrana”  berarti hama atau bala penyakit. Mrana adalah istilah yang umum dipakai untuk menyebut jenis-jenis penyakit  yang merusak  tanaman. Bentuknya bisa berupa serangga, binatang maupun dalam bentuk gangguan keseimbangan kosmis yang berdampak merusak  tanaman. Jadi “nangluk mrana” berarti mencegah atau menghalangi hama (penyakit) atau ritual penolak bala.

Selain uraian dalam buku tersebut diatas, upacara Ngaben Tikus ini pun terdapat pada  lontar “Perembon Indik Ngaben Tikus”  sekilas dijelaskan bila tikus telah menjadi hama  ganas yang menyerang sawah petani, maka sebaiknya dilakukan upacara seperti mengupacarai orang mati biasa. Dan upacara hendaknya dilakukan di tepi pantai dengan cara dibakar. Seperti halnya Ngaben  Manusia, Ngaben Tikus juga mempunyai tata cara pelaksanaan sebagai berikut; tikus-tikus yang telah mati diletakkan di atas bade atau wadah untuk mayat sama seperti bade manusia. Bade ini kemudian diusung para warga ke kuburan desa dan sesampainya di sana, ratusan bangkai tikus tersebut dipindah ke bade berbentuk lembu yang akhirnya dibakar.  Setelah upacara pembakaran selesai dilanjutkan dengan upacara  nganyut (membuang abu) ke laut yang dipimpin oleh Pendeta (orang suci Hindu). Banyak adat istiadat dan kebudayaan yang hilang seiring perkembangan zaman, namun bila anda datang ke Bali semua itu tetap lestari sampai akhir peradaban.


(Artikel dari berbagai sumber)

Add comment


Security code
Refresh

Footer Jagat Bali Number One